Mental Health di Masa Pandemi
Pandemi COVID-19
sangat berdampak pada kehidupan masyarakat. Salah satunya yaitu pengaruh pada
kesehatan mental atau dalam bahasa Inggris disebut Mental Health. Sebelum pandemi COVID-19, kesehatan mental sudah
menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapi oleh suatu negara. Hal ini
dikonfirmasi oleh survei Milenial Global Deloitte 2020 yang dilakukan sebelum
dan sesudah dimulainya pandemi. Apa sebenarnya pengertian dari kesehatan mental
atau Mental Health?
Menurut
Wikipedia, kesehatan jiwa atau kesehatan mental adalah tingkatan kesejahteraan
psikologis atau ketiadaan gangguan jiwa. Kesehatan jiwa terdiri dari beberapa
jenis kondisi yang secara umum dikategorikan dalam ‘kondisi sehat’, ‘gangguan kecemasan’,
‘stres’, dan ‘depresi’. Namun, perlu diperhatikan perbedaan antara kesehatan
jiwa, Orang dengan Masalah Kejiwaan (ODMK), dan Orang dengan Gangguan Jiwa
(ODGJ).
Apabila kita merasakan gejala
gangguan kesehatan mental, kita harus segera memeriksakan diri untuk
berkonsultasi dengan psikolog ataupun dokter spesialis kejiwaan. Karena apabila
tidak segera ditangani, kesehatan mental akan semakin memburuk dan menyebabkan
masalah yang lebih serius. Menurut Alodokter (2020), beberapa gejala gangguan
kesehatan mental antara lain:
- Ketakutan
dan kecemasan yang berlebihan akan
keselamatan diri sendiri maupun orang-orang terdekat.
- Perubahan
pola tidur dan pola makan.
- Bosan
dan stres karena terus-menerus berada di rumah, terutama pada anak-anak.
- Sulit
berkonsentrasi.
- Penyalahgunaan
alkohol dan obat-obatan.
- Memburuknya
kesehatan fisik, terutama pada penderita penyakit kronis, seperti diabetes dan hipertensi.
- Munculnya
gangguan psikomatis.
Menurut penelitian American Pshycological
Association (APA) tahun 2018 berjudul “Stress
in America: Generation Z”, anak muda usia 15 sampai 21 tahun adalah
kelompok manusia dengan kondisi kesehatan mental terburuk dibandingkan dengan
generasi-generasi lainnya. Menurut penelitian APA, diperoleh hasil bahwa
sebanyak 91% gen Z mempunyai gejala emosional maupun fisik yang berkaitan
dengan stres, seperti depresi dan gangguan kecemasan. Stres merupakan faktor
terbesar yang menyebabkan kesehatan mental gen Z memburuk. Terutama di masa
pandemi ini, kesehatan mental gen Z semakin menurun. Hal ini dapat disebabkan
karena beberapa faktor. Contohnya yaitu rasa takut dan cemas yang berlebihan
akibat wabah virus Corona, rasa terasingkan selama karantina mandiri, dan kesedihan
akibat kehilangan orang yang disayangi karena COVID-19. Selain itu, pelajar dan
mahasiswa harus beradaptasi dengan sistem pembelajaran yang berubah. Hal ini
tentu memberikan tekanan bagi setiap orang.
Teknologi juga sangat berpengaruh pada kesehatan mental seseorang, terutama
generasi Z. Menurut Taronto (2009),
terdapat kecenderungan generasi Z memanfaatkan teknologi untuk menghindari
perjuangan di kehidupan offline
mereka dan untuk menemukan kenyamanan (berbaur) dengan melarikan diri dan
berfantasi untuk mengisi waktu maupun kekosongan emosional. Generasi ini ternyata
memanfaatkannya sebagai tempat “pelarian” dari kehidupan nyata mereka. Pada
situasi saat ini, kebiasaan penggunaan internet oleh pelajar dan mahasiswa
tentu sangat meningkat. Oleh sebab itu, gen Z harus mengurangi pemakaian
internet selama berada di rumah. Karena internet dapat semakin memperburuk
kesehatan mental generasi Z apabila tidak digunakan secara bijak.
Kesehatan mental merupakan hal yang harus dijaga oleh setiap orang terutama
di masa pandemi ini. Kita harus mampu mengatasi situasi ini dengan baik. Banyak
kegiatan positif yang dapat dilakukan untuk menghindari gangguan kesehatan
mental selama masa pandemi terutama bagi gen Z. Salah satu contohnya yaitu melakukan
olahraga seperti yoga, bersepeda, dan sejenisnya. Olahraga dapat membantu tubuh
untuk memproduksi hormon endorfin yang dapat membantu meredakan stres. Dengan
berolahraga, kita juga dapat menjaga kesehatan fisik agar tidak mudah
terjangkit virus Corona. Contoh lain yang bisa dilakukan yaitu melakukan hobi
dan mencoba hal baru seperti mendengarkan musik. Musik mempunyai dampak positif
bagi kesehatan mental yaitu dapat meningkatkan suasana hati dan mengurangi gejala
depresi. Selain mendengarkan musik, kita juga dapat menonton film dan memasak untuk
mengisi waktu kosong. Di internet kita dapat dengan mudah menemukan berbagai
macam rekomendasi film yang menarik dan resep-resep makanan terbaru.
Setiap orang juga diharapkan mampu menyaring informasi yang diterima baik
lewat media sosial maupun televisi. Apabila kita melihat pemberitaan mengenai
tingkat kematian akibat COVID-19 secara terus-menerus, hal ini akan memberikan
tekanan yang cukup besar terhadap kesehatan mental. Kita juga harus menghindari
berita palsu atau hoax yang saat ini
banyak beredar di internet. Sebaiknya kita mengurangi dan membatasi diri dalam
menerima informasi mengenai COVID-19. Kita harus tetap berpikir positif dan
melakukan hal produktif dalam menghadapi masa pandemi ini agar dapat
melewatinya. Semoga masa pandemi ini segera berakhir dan kita semua dalam
keadaan sehat baik fisik maupun jiwa.
Komentar
Posting Komentar